Mental Health and Its Role for Gen Z
Mental Health and Its Role for Gen Z
Nadia Apriliani
Tidak lama lagi kita akan merayakan Mental Health Awareness Day pada 10 Oktober nanti. Namun, sudahkah kita semua memahami apa itu kesehatan mental? Apakah kita sehat secara jasmani dan rohani?
Saat ini, sudah bukan lagi saatnya untuk menganggap kesehatan mental sebagai sesuatu yang disepelekan. Tubuh memerlukan sehat secara fisik dan mental untuk mampu menjalankan tugasnya dengan baik. Menurut WHO, 800.000 orang mengakhiri hidupnya setiap tahun, dengan rentang usia 15-29 tahun. Hal ini merupakan indikasi bahwa perlunya kita memiliki fisik dan mental yang sehat agar tidak terjerumus pada hal yang tidak diinginkan. Namun, tidak semua orang memiliki mental yang sehat. beberapa di antara kita mungkin memiliki mental illness atau bahkan orang di sekitar kita mengidapnya tanpa sepengetahuan kita.
Lantas, bagaimana langkah kita sebagai Gen Z dalam kondisi seperti ini? Selain harus memiliki kepekaan diri, kita sendiri haruslah memiliki fisik dan mental yang sehat pula. Berikut ini adalah langkah yang bisa kita lakukan sebagai Gen Z dalam dunia mental health :
1. Edukasi diri
Edukasi diri merupakan langkah awal yang harus kita lakukan untuk mengetahui pokok penting kesehatan mental. Hal ini tentu akan berdampak positif jika kita mampu mengetahui diri kita sendiri. Memastikan bahwa mental kita sehat atau memerlukan penanganan lebih lanjut. Dengan mengetahui diri sendiri, maka seseorang pasti akan memiliki kecenderungan untuk menggali informasi lebih dalam lagi mengenai diri mereka sehingga mereka mampu merasa lebih baik. Selain bermanfaat untuk diri sendiri, kita juga bisa mengedukasi orang lain bahwa kesehatan mental bukanlah sesuatu yang tabu, melainkan perlu dibicarakan dengan terbuka, tanpa adanya justifikasi dari pihak manapun.
2. Meditasi (mindfulness)
Langkah kedua ini merupakan langkah iniasi setelah kita mengetahui kondisi diri kita. Berbagai emosi yang muncul, seperti rasa senang, sedih, kecewa, dan marah merupakan hal yang wajar bila terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Namun, apa yang harus kita lakukan bila emosi tidak kunjung hilang? Itulah sebabnya kita memerlukan meditasi untuk menenangkan sejenak hati dan pikiran kita. Menurut Dr. Jeffrey Lieberman, psikiater di Universitas Columbia mengatakan bahwa melakukan mindfulness 10 menit setiap hari mampu menurunkan risiko depresi hingga 40%. Dr. Lieberman memberikan beberapa langkah mudah bagi kita generasi muda yang sibuk yaitu dengan mengatur napas di tempat yang tenang selama 4 menit. Kita dapat melakukannya dengan menarik napas 8 detik, menahannya 4 detik, dan melepaskannya 8 detik hingga detak jantung kita terasa lebih teratur dan pikiran kita lebih tenang. Jika perlu, kita juga perlu mengistirahatkan diri dari kepenatan sejenak dan tidak berlarut-larut dalam media sosial. Hal ini karena media sosial dapat berdampak buruk jika digunakan secara berlebihan. Oleh karena itu, membatasi penggunaan media sosial dan melakukan hobi yang bermanfaat dapat mengurangi risiko masalah kesehatan mental.
3. Mengatur pola makan
Mahasiswa tentu sedikit kaget ketika pola makan memberikan peran dalam kesehatan mental yang baik. Menurut Dr. Tara Narula, seorang dokter jantung, menyatakan bahwa makanan dan mood memiliki keterkaitan satu sama lain. Makanan yang tinggi asam amino, lemak tak jenuh, omega 3, zat besi, zinc, magnesium, vitamin B dan D mampu meningkatkan suasana hati kita atau dikenal sebagai mood boosters. Mengonsumsi ikan laut, kacang-kacangan, susu, dan sayur hijau mampu mengurangi depresi, ketidakseimbangan kognitif, dan demensia. Hal ini dikarenakan neuron-neuron kita di otak memerlukan asupan nutrisi yang cukup untuk menjalankan fungsinya dengan baik, termasuk melepaskan hormone serotonin dan endorphin yang mampu menjaga kita tetap bersuasana hati yang baik.
4. Berolahraga
Selain baik untuk kesehatan fisik, berolahraga juga mampu menjaga kesehatan mental kita tetap sehat. Bagaimana dengan kondisi pandemi seperti saat ini? Kita tetap bisa berolahraga ringan tentunya dengan tetap mematuhi protokol kesehatan. Beberapa pilihan yang tersedia kita bisa melakukan yoga, senam, renang, bersepeda, atau jogging ringan. Olahraga mampu menstimulasi hormone endorphin untuk dilepaskan sehingga kita bisa merasa lebih rileks dan mampu meningkatkan selera makan kita.
5. Periksakan diri
Jika telah melakukan beberapa langkah di atas namun hati dan pikiran masih belum membaik, maka saatnya memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. Tidak perlu takut dan malu, karena tenaga kesehatan tidak akan membocorkan data diri anda sehingga kita bisa tetap tenang dan diberikan penanganan mulai dari terapi, atau obat resep dokter untuk mengendalikan mood kita.
6. Peduli sesama
Ini merupakan langkah terakhir yang bisa kita lakukan sebagai generasi Z. Peduli sesama adalah puncak keberhasilan diri kita sebagai manusia yang sehat secara fisik dan mental. Hal ini dikarenakan dengan kita peka terhadap orang-orang disekitar kita yang kita sayangi, maka kita dapat mencegah adanya masalah kesehatan mental baik mental illness maupun mental disorder sejak dini. Kita bisa membantu orang-orang di sekitar kita untuk mengungkapkan masalah mereka sehingga mereka merasa lebih baik atau sebaliknya. Kita juga dapat selalu menyebarkan energi positif di lingkungan kita sebagai wujud syukur dan peduli kita terhadap orang lain mengenai kesehatan mental yang sehat serta fisik yang mumpuni.
Berikut adalah beberapa cara yang bisa kita lakukan sebagai generasi muda untuk selalu menjaga kesehatan mental kita dan peduli sesama.
Stay healthy fellas, both physically and mentally 💓


Komentar
Posting Komentar