Mencintai Diri, Melengkapi Potongan Puzzle, Mencari Tujuan

 

Mencintai Diri, Melengkapi Potongan Puzzle, Mencari Tujuan

Nadia Apriliani

 Senin, 28 September 2020. 

My either motivation or reminder whether I'll need re-read this later in the future :)

Setiap manusia terlahir dengan fitrah untuk saling menyayangi. Tentu saja kita akan mendapatkannya dimulai dari orang tua, keluarga, dan sanak saudara. Namun, seiring berjalannya waktu tidak jarang dari kita sebagai remaja mengalami Quarter Life Crisis (QLC). Wah, apakah itu? Itu adalah masa di mana kita merasa diri kita rumpang dan kehilangan motivasi. Kita merasa bahwa kita tidak layak untuk disayangi atau merasa kita belum cukup baik menjadi manusia. Kita mulai mempertanyakan tujuan hidup yang akan kita tempuh, diiringi dengan rasa cemas dan ragu akan kemampuan diri sendiri.

Tetapi tahukah kalian bahwa QLC adalah hal yang wajar? Kita pasti akan mengalaminya cepat atau lambat. Walaupun kadar keambiguan yang dialami orang-orang pasti akan berbeda pula. Saya pun sudah pernah mengalami fase ini ketika beranjak naik ke kelas 12. Umur saya 17 tahun kala itu. Saya pun sering menanyakan kepada diri sendiri seperti apakah Saya di masa mendatang, ke manakah Saya harus melanjutkan Pendidikan Saya lebih lanjut, apakah teman-teman dan keluarga Saya akan terus menyukai dan mendukung keputusan Saya, dan masih banyak hal lain yang Saya cemaskan.

Setiap hari saya selalu menonton YouTube sebagai hiburan pelepas penat. Sampai akhirnya Saya menemukan sebuah TED Talk di YouTube dari Dr. Andrea Pennington, dalam TED Talknya yang berjudul My Journey to Self-love. Dr. Andrea adalah seorang dokter, dan penulis yang berhasil mencintai diri sendiri dengan cara yang cukup mudah, yaitu dengan memaafkan diri. Mengapa kita perlu memaafkan diri? Hal ini tentu saja karena terkadang kita melihat masa lalu kita yang terkadang membuat kita enggan untuk melangkah maju. Kita ragu akan kemampuan diri, baik dari kata hati maupun kata orang lain. Tapi tahukah kalian bahwa satu-satunya orang yang mampu mengubah kita tidak lain adalah pikiran dan hati kita sendiri.

Tidak jarang dari kita mengubah perspektif  kita hanya karena pendapat orang lain. Tentu saja hal ini adalah hal yang wajar, mengingat kita sebagai remaja memiliki kecenderungan untuk melihat dan mendengarkan orang lain sebagai patokan hidup kita. Tidak jarang pula masuknya pendapat orang lain tentang kita mampu merusak pola pikir kita yang semula optimistis menjadi pesimis. Semula adalah orang yang percaya diri menjadi orang yang pemalu. Dari sinilah anxiety dan insecurities beberapa orang, termasuk Saya muncul bak ombak tsunami.

Ketika melihat ke belakang, Saya selalu bersyukur bahwa Saya dikelilingi oleh keluarga dan teman dekat yang selalu mendukung dan memberi masukan yang membangun. Dari situlah Saya mencoba untuk memahami apa saja kemampuan, kelemahan, dan potensi apa yang Saya miliki. Tidak lama kemudian Saya memutuskan bahwa Saya harus bisa kembali menjadi sosok Saya 1 tahun ke belakang pada saat itu. Saya harus mampu kembali percaya diri dan yakin bahwa membuat kesalahan adalah hal yang wajar. Hingga akhirnya, Saya dapat kembali mencintai diri sendiri, di mulai dari menata hati dan pikiran.

Saya memulai dengan mencari hobi baru. Namun, karena keterbatasan waktu di tengah kesibukan masa SMA, Saya memutuskan untuk melanjutkan hobi Saya bermain piano, di mana sudah sangat lama Saya tidak melakukannya sebagai rutinitas. Saya menjadikan bermain piano sebagai rutinitas 20 menit sehari. Saya melakukannya sepulang sekolah jika sudah ada waktu luang. Dari kegiatan itulah akhirnya Saya memiliki kegiatan untuk menutup hari dengan keadaan hati yang baik dan tidak terperangkap dalam lautan overthinking yang biasa Saya alami. Teman-teman Saya pun mulai merasakan adanya perbedaan dalam diri Saya di mana Saya banyak menghabiskan waktu untuk berbincang dengan teman, bertukar pikiran, daripada bermain hand phone seperti yang Saya lakukan beberapa minggu terakhir. Konsentrasi belajar pun meningkat dan badan terasa lebih berenergi karena pikiran Saya di isi dengan pikiran dan energi yang positif. Peran lingkungan yang tidak toxic juga sangat berperan dalam proses ini karena awal dari rasa ragu dan kurang percaya diri berasal dari toxic circle.

Kemudian, apakah ada rasa sesal ketika berhasil keluar dari lingkungan yang kurang baik? 100% Saya tidak menyesal. Saya bisa mencintai diri sendiri dan selalu memiliki motivasi berasal dari pikiran dan hati yang positif, dan tentunya dari teman-teman baik pula yang mengelilingi Saya. Oleh karena itu, kunci dari mencintai diri sendiri adalah dorongan dari diri kita untuk selalu memaafkan kekurangan dan mencintai potensi dan kelebihan kita sebagai bekal dalam menempuh kehidupan dewasa kita di mana mengharuskan diri sendiri untuk tetap on track dan tidak salah memilih lingkungan pertemanan.

Kesimpulannya, evaluasi diri sangatlah penting. Namun, janganlah berlarut-larut dalam pikiran negatif yang menghantui otak kita setiap waktu. Ada kalanya kita perlu putar kemudi untuk mencari suasana baru, di mulai dengan mencari hal-hal yang kita sukai, dan meninggalkan hal-hal dari diri kita yang dirasa perlu dieliminasi. Olahraga dan mencari hobi baru juga berperan penting untuk kesehatan pikiran di mana otak kita akan melepas hormon endorphin dan serotonin untuk menunjang proses loving-ourselves sehingga “2.0 Me” yang utuh, memiliki motivasi akan tujuan hidup, serta membantu kita dalam chapter hidup kita selanjutnya, yaitu proses menuju sosok manusia dewasa yang well-put-together dan tentunya menyayangi diri sendiri dan orang sekitar kita.

Sekian tulisan Saya ini kiranya membantu, jika ada salah kata atau frasa yang dirasa kurang berkenan Saya mohon maaf.😊

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mental Health and Its Role for Gen Z